Selasa, 01 September 2015

Tentang sifat-sifat Allah

Madzhab Salaf menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala tanpa ta’thil, tamtsil, tahrif, dan takyif. Mereka mempercayai sifat-sifat Allah sebagaimana yang tersebut dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.     
        
            Tahrif artinya merubah dan mengganti. Pengertiannya: merubah lafadh nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna) dan sifat-sifatnya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya.
    Tahrif itu ada dua: Pertama, menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafadh. Contohnya, orang Jahmiyah dan pengikutnya mengatakan bahwa Istawa adalah istaula. Di sini ada penambahan huruf laam. Juga orang Yahudi mengatakan  hinthathun ketika mereka diperintah mengatakan hitthathun.

Kedua, merubah makna. Contohnya, perkataan ahli bid’ah yang menafsirkan ghadhab (marah) dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam), rahmah (kasih sayang) ditafsirkan dengan iradatul in’am (keinginan untuk memberi ni’mat), dan al-yadu (tangan), dengan an-ni’mah (nikmat).

    Ta’thil artinya meniadakan, yaitu meniadakan sifat-sifat ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya.
   Perbedaan tahrif dan ta’thil yaitu: ta’thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan interpretasi yang batil. 

   Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang bathil dan menafikan suatu makna yang benar maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’atthil, pelaku ta’thil, tetapi bukan muharrif, pelaku tahrif.

    Takyif artinya bertanya dengan kaifa, bagaimana. Maksudnya: menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan tatacara tertentu untuknya. Meniadakan tatacara bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah faham yang dianut oleh kaum Salaf sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik rahimahullah Ta’ala, ketika ditanya tentang tatacara istiwa’, bersemayam. Beliau rahimahullah menjawab:
   استواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
Istiwa’ –bersemayam-- itu telah diketahui (maknanya), tatacaranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah.”

    Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahu tatacara, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, tanpa mempedulikan tatacaranya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.

    Tamtsil artinya menyerupakan, yaitu menjadikan Allah Ta’ala serupa dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya. Tamtsil dibagi menjadi dua yaitu: Pertama, menyerupakan makhluq dengan Pencipta. Misalnya, orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala, dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan Uzair dengan Allah Ta’ala pula. Maha Suci Allah dari itu semua. Kedua, menyerupakan Pencipta dengan makhluq. Contohnya, orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluq, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluq, dan memiliki tangan seperti tangan yang dimiliki oleh makhluq, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

     Kenapa kaum Salaf melarang tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil, karena menurut mereka, sifat Allah SWT itu adalah tauqifiyah, berdasarkan pada wahyu, sedang akal tidak mempunyai peran di dalamnya. Syekh Utsaimin, ulama Salaf masa kini (wafat Syawal 1421H di Saudi Arabia) menegaskan: “Untuk itu, kita tidak menetapkan sesuatupun sifat untuk Allah kecuali bila ada dasarnya dari Kitab dan Sunnah. Imam Ahmad –rahimahullah—mengatakan: “Tidak boleh Allah disifati kecuali menurut apa yang telah Dia sifatkan untuk Diri-Nya atau menurut apa yang telah disifatkan Rasulullah SAW, tidak boleh melanggar Al-Qur’an dan Hadits.”


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Surat resmi balasan Raja Saudi kepada NU

Untuk menghindari berbagai interpretasi dari berita-berita yang berkembang tentang isi surat Raja Ibn Sa’ud, baik dari kalangan NU maupun non NU, maka di sini dikutip secara utuh surat resmi Raja Saudi kepada NU:

بسم الله الرحمن الرحيم

KERAJAAN HIJAZ, NEJD DAN SEKITARNYA

Nomor: 2082 – Tanggal 24  Dzulhijjah 1346H.

Dari : Abdul Aziz bin Abdur Rahman Al-Faisal
Kepada Yth. Ketua Organisasi Nahdlatul Ulama di Jawa
Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan Sekretarisnya Syaikh Alawi bin Abdul Aziz ( semoga Allah melindungi mereka).

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.


    Surat saudara tertanggal 5 Syawwal 1346H telah sampai kepada kami. Apa yang saudara sebutkan telah kami fahami dengan baik, terutama tentang rasa iba saudara terhadap urusan ummat Islam yang menjadi perhatian suadara, dan delegasi yang saudara tugaskan yaitu H. Abdul Wahab, Sekretaris I  PBNU, dan Ustadz  Syaikh Ahmad Ghanaim Al-Amir, Penasihat PBNU telah kami terima dengan membawa pesan-pesan dari saudara. 

   Adapun yang berkenaan dengan usaha mengatur wilayah Hijaz, maka hal itu merupakan urusan dalam negeri  Kerajaan Saudi Arabia, dan Pemerintah dalam hal itu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan segala kemudahan bagi jemaah haji di Tanah Suci, dan tidak pernah melarang seorang pun untuk melakukan amal baik yang sesuai dengan Syari’at Islam. 

   Adapun yang berkenaan dengan kebebasan orang, maka hal itu adalah merupakan suatu kehormatan, dan alhamdulillah, semua Ummat Islam bebas melakukan urusan mereka, kecuali dalam hal-hal yang diharamkan Allah, dan tidak ada dalil yang menghalalkan perbuatan tersebut, baik dari Al-Qur’an, Sunnah, Mazhab Salaf Salih dan dari pendapat Imam empat Mazhab. Segala hal yang sesuai dengan ketentuan tersebut, kami lakukan dan kami laksanakan, sedang hal-hal yang menyelisihinya, maka tidak boleh taat untuk melakukan perbuatan maksiat kepada Allah Maha Pencipta. 

   Tujuan kita sebenarnya adalah da’wah kepada apa yang dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw dan inilah agama yang kami lakukan kepada Allah. Alhamdulillah kami berjalan sesuai dengan faham ulama Salaf yang Salih, mulai dari Sahabat Nabi hingga Imam empat Mazhab.

   Kami memohon kepada Allah semoga memberi taufiq kepada kita semua ke jalan kebaikan dan kebenaran serta hasil yang baik. Inilah yang perlu kami jelaskan.  Semoga Allah melindungi saudara semua.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Tanda tangan dan  stempel

   

     Demikianlah surat Raja Abdul Aziz membalas surat Ketua PBNU,  13 Juni 1928, 24 Dzulhijjah 1346H.


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Sabtu, 15 Agustus 2015

KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 1:

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pemimpin utama Jemaah Ahmadiyah yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari negeri India dan Jemaah Salamullah yang dipimpin oleh Lia Aminuddin dari Indonesia, masing-masing telah mengaku mendapatkan wahyu dari Allah Azza Wajalla dan telah pula mengaku diangkat menjadi Imam Mahdi sebagaimana yang konon diriwayatkan oleh beberapa sabda Nabi Muhammad Saw dalam beberapa Hadist yang otoritas ke-Shahihannya serta penafsirannya sendiri sebenarnya masih mengandung perdebatan antar para umat Islam.
Di dalam salah satu riwayat yang diatasnamakan kepada Ibnu Abbas, Rasulullah saw. dikabarkan pernah bersabda:
 
"Tidak akan hancur umat [Islam] yang aku berada di muka, Isa di akhir dan Mahdi di tengahnya"
(
Sunan Nasai; Faidhul Qadir, jld.5,h.301; Nuzul Isa Ibni Maryam Akhir Az Zaman, Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi, terj. Bhs.Indonesia: Turunnya Isa Bin Maryam Pada Akhir Zaman, A.K.Hamdi, CV Haji Masagung,Jakarta,1989, h.89)
Dalam satu Hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dikatakan pula Rasulullah Saw pernah bersabda :
"Tidak ada Mahdi selain Isa"
(
Riwayat Ibnu Majah).
Mengenai bakal turunnya Imam Mahdi, kepercayaan di kalangan pencinta ahli Bait yang lebih dikenal sebagai kaum Syî‘ah lebih kuat dan merata daripada di kalangan umat Islam dari berbagai aliran selain mereka.
Sebutan seseorang sebagai al-mahdî (orang yang mendapat hidayah Ilahi) agaknya mula-mula muncul sebagai sebutan kehormatan, khususnya untuk para anggota Ahl al-Bayt (Keluarga Nabi) dari garis keturunan ‘Alî ibn Abu Thâlib dan Fâthimah. Ada indikasi bahwa kedua putera ‘Alî dan Fâthimah, yaitu Hasan dan Husein (al-Hasan dan al-Husayn) sejak dari semula sudah digelari sebagai al-Mahdî.
Ini cukup logis, baik dari sudut pandang kaum Sunnî maupun, lebih-lebih lagi, kaum Syî‘î, mengingat kedua cucunda Nabi itu dihormati sebagai tokoh-tokoh yang telah menempuh hidup di bawah bimbingan Allah.
Di kalangan kaum Syî‘î, Mahdisme merupakan salah satu pandangan keagamaan yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada di kalangan kaum Sunnî. Bahkan dapat dikatakan bahwa Mahdisme hampir-hampir identik dengan Syî‘isme, baik kalangan Syî‘ah Istnâ ‘Asy`arîyah (juga disebut Syî‘ah Ja‘farîyah atau Mûsawîyah) maupun kalangan Syî‘ah Sab‘îyah (lebih umum dikenal dengan sebutan Syî‘ah Ismâ‘îlîyah).
Namun ada yang melacak bahwa paham tentang Imam Mahdi itu asal mulanya timbul di kalangan kaum Kaysânîyah, yaitu para pengikut Muhammad ibn al-Hanafîyah, seorang keturunan ‘Alî dari isterinya yang berasal dari wanita suku Banî Hanîfah. (Maka cukup menarik untuk diperhatikan bahwa tokoh putera ‘Alî ibn Abu Thâlib yang bernama Muhammad ini tidak disebut "ibn ‘Alî", melainkan "ibn al-Hanafîyah" yang merujuk kepada ibunya; dengan begitu ia ditegaskan sebagai bukan keturunan Nabi saw., karena keturunan beliau hanya ada dari kerturunan puteri beliau, Fâthimah).
Setelah Muhammad ibn al-Hanafîyah meninggal, para pengikutnya percaya bahwa ia menghilang dalam persembunyian di Gunung Rawdlah di Arabia barat-laut, kawasan antara Yanbû‘ dan Madînah. Mereka percaya bahwa tokoh itu kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di bumi, sebagai Imam Mahdi. Saat sekarang ini, dalam kepercayaan para pengikutnya, Muhammad ibn al-Hanafîyah adalah seorang Imam yang masih dalam persembunyian (al-Imâm al-Ghâ’ib), sekaligus Imam yang dinantikan (al-Imâm al-Muntazhar). (Lihat: Mesianisme dalam kehidupan beragama)
Sementara itu, Mirza Ghulam Ahmad, kelahiran Qadian-India 13 Februari 1835, mengaku menerima suara dari langit pada bulan Maret 1882 yang menyatakan diangkatnya Mirza Ghulam sebagai "Ma'mur Minallah" atau "Utusan Allah" dan mengklaimkan diri pula sebagai seorang Mujaddid (pembaharu agama), yang dilanjutkan pada awal tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan bahwa dirinya telah diangkat oleh Allah Swt sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau'ud atau Isa yang dijanjikan.
(lihat:
http://thewww.com/ahmadina/sejarah.htm )
Selain itu juga ia sebagai Juru Selamat dari umat Budha (Reinkarnasi Budha), umat Hindu (Kalky Authar), umat Kong Hu Chu, umat Zoroaster dan tentu saja umat Kristen yaitu datangnya Jesus untuk mendekatkan kerajaan langit dan bumi.
(Amanat Hz.Khalifatul Masih IV Pd Tasyakur Seabad Jemaat Ahmadiyah,23 Maret 1889-1989, Souvenir Peringatan Seabad Gerhana-bulan dan Gerhana-matahari Ramadhan 1894-1994,Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994,h.7)
Referensi diambil dari: http://thewww.com/ahmadina/akidah.htm
Dengan menetapkan Masih Mau'ud dan Mahdi itu satu orangnya, kedatangan Almasih tsb. dianggap sebagai kedatangan Rasulullah saw. untuk kedua kalinya. Dan orang-orang yang menerima kedatangan Masih Mau'ud tsb. dinyatakan sebagai para sahabat Rasulullah saw. juga, namun yang belum pernah bergabung/berjumpa dengan para sahabah yang hidup dimasa Rasulullah saw. (Al-Jum'ah:3-4). Dengan itu di kalangan umat Islam pecinta Rasulullah saw. timbul kedambaan yang meluap-luap terhadap Almasih yang dijanjikan tsb.
Pada akhir tahun 1890, yaitu beberapa waktu sebelum Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan dirinya sebagai Imam Mahdi dan Almasih, ia mengatakan telah memperoleh ilham dari Allah bahwasanya Nabi Isa Putra Maryam telah wafat:
"Masih ibnu Maryam rasul Allah faot hocuka he aor uske rangg me ho kar wa'dah ke muwafiq tu aya he -- Masih Ibnu Maryam rasul Allah telah wafat, dan dalam warnanya engkau telah datang sesuai dengan [yang] dijanjikan" (Izalah Auham h.561-562; Tadzkirah, edisi ke-3, Al-Syirkatul Islamiah, Rabwah, 1969,h.183)
Jadi menurut Mirza Ghulam seseorang yang telah wafat tidak akan hidup kembali dan datang ke dunia ini. Oleh karena itu, orang yang dijanjikan kedatangannya tsb. tentu pribadi lain yang memiliki kesamaan dengan Almasih yang tidak lain adalah dirinya sendiri.

Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburan Nabi Isa as. terdapat di Srinagar, Kashmir. Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan ekspedisi untuk menelusuri bukti-bukti perjalanan hijrahnya Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir sampai beliau as. wafat disana.
Dan pada tahun 1899 Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Almasih Hindustan Me (Almasih Di India), yang diklaim memuat bukti-bukti sejarah serta kesaksian-kesaksian sosial budaya kawasan yang diperkirakan pernah dilalui oleh Nabi Isa dalam perjalanan beliau mencari domba-domba Bani Israili yang hilang, di kawasan Iran, Afghanistan, hingga ke Kashmir, India.
Berbeda dengan pengklaiman Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) yang mengaku sebagai Imam Mahdi sekaligus juga Isa Almasih, Lia Aminuddin dari Indonesia mengaku telah disapa oleh seorang Malaikat bernama "Habib Al-Huda" pada tanggal 27 Oktober 1995 yang akhirnya pada tanggal 28 Juli 1997 makhluk tersebut mengaku bahwa dia sesungguhnya adalah Malaikat Jibril utusan Allah yang membawa misi mengabarkan kebangkitan Imam Mahdi dan Isa Almasih pada akhir jaman. (lihat: Perkenankan Aku Menjawab Sebuah Takdir)
Adapun Imam Mahdi yang dimaksud adalah tidak lain Lia Aminuddin sendiri yang lahir dikota Ujungpandang pada tanggal 21 Agustus 1947, sementara sang Nabi Isa Almasih adalah Ahmad Mukti, kelahiran 1 Juni 1972, putra ketiga dari empat bersaudara buah perkawinannya dengan Ir. Aminuddin Day, MSc, seorang dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Meniliki sosok Ahmad Mukti, tidak ada yang istimewa dalam kehidupan masa lalunya. Pendidikan sekolah SD-SMA diselesaikannya di Jakarta. Bahkan ia pernah di DO (drop out) dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) karena memiliki nilai yang kurang memadai. Dan terpaksa melanjutkan studi S-1 di Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta.
Ahmad Mukti sebelumnya diketahui tidak terlampau akrab dengan Jemaah Salamullah yang dipimpin oleh ibunya. Dia juga tidak pernah kelihatan menjadi Imam Sholat fardu berjamaah ataupun Sholat amanatuhu - Sholat sunah versi mereka.
Kebangkitan Nabi Isa menurut Lia Aminuddin diketengahkan melalui sebuah kelahiran dan Ahmad Mukti itu menerima ruh Nabi Isa sejak awal ketika dia masih berupa janin di dalam kandungan. Sejak kelahiran sampai dia dewasa, keadaannya disimpan, tidak diberitahukan demi perlindungan kepadanya. Persembunyian ini ditujukan untuk menghindarkan dirinya dari pembinasaan oleh dajjal. Sebagai Nabi Isa yang kelak akan membunuh dajjal tentulah oleh dajjal hal itu ingin digagalkan. Maka, keadaan Nabi Isa ini diungkapkan setelah dia berumur 26 tahun, pada saat pembaiatannya.
Kedatangan dajjal diberitahukan bersamaan dengan kebangkitan Nabi Isa. Maka kedatangan dajjal itu tak dapat dihindarkan oleh Nabi Isa. Sedangkan dia ingin dikemukakan sebagai manusia biasa oleh Allah demi untuk menghentikan pengkultusannya. Umat Nasrani telah mempersekutukan Nabi Isa dengan Allah. Maka pada kebangkitan Nabi Isa ini dia dikemukakan sebagai orang yang belum menerima perisai-perisainya Nabi Isa.
Dia hanya disebutkan sebagai Nabi Isa. Maka untuk membela dia dari serangan dajjal dan orang-orang yang tak menginginkannya, maka Allah menunjuk ibunya sebagai Imam Mahdi sebagai orang yang mengemukakan kebangkitannya dan sekaligus sebagai penjaganya. Nabi Isa dan Imam Mahdi merupakan suatu kesatuan yang solid untuk menyampaikan perintah-perintah dan amanah Allah. Keduanya saling menjaga dan tugas mereka saling melengkapi.
Misalkan Imam Mahdi dan Nabi Isa itu terpisah dan tak saling berkaitan, amanah-amanah Allah itu kembali menjadi pertentangan antara umat Kristen dan umat Islam.
Dengan pernyataan ini, secara tidak langsung, Lia Aminuddin telah membatalkan pengklaiman Jemaah Ahmadiyah mengenai ketunggalan Almasih dengan Imam Mahdi dalam sosok Mirza Ghulam Ahmad.
Selanjutnya sebagai pembuktian bahwa Ahmad Mukti adalah Nabi Isa, maka ruh Siti Maryam dikabarkan telah mendampingi Lia Aminuddin melalui sosoknya pada diri beliau setiap saat bila diperlukan (kondisi trance). Dengan cara inilah konon Allah memberikan sarana bagi Lia Aminuddin untuk membuktikan bahwa anaknya , Ahmad Mukti itu, adalah Nabi Isa.
Ketika berkunjung ke Masjid Nabawi-Madinah Al Munawarah, Sabtu 18 Oktober 1997, di depan makam Rasulullah Muhammad Saw tiba-tiba Lia Aminuddin mengalami in trance. Lalu ia mendengar suara di dalam kalbunya, semacam isyarat dari Rasul. 


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

KeEsaan Tuhan Dalam Alkitab

YESUS DATANG BUKAN UNTUK MEROMBAK TAURAT......

Berbeda  dengan  apa yang dianut , diayakini, dan  dipahami   oleh orang-orang  Kristen  sekarang  ini   terhadap  Keesaan  Tuhan   , Alkitab   sendiri  memberikan  kesaksian  bahwa  Yesus    sendiri, sebagaimana juga Rasul-Rasul yang lain diutus oleh Allah  memegang teguh  kepercayaan  akan  "keesaan  Tuhan".  Hal  ini  diungkapkan beliau  sesuai dengan kesaksian penulis-penulis Injil bahwa  Yesus sama  sekali  tidak  membawa suatu ajaran baru  yang  menghapuskan ajaran  Nabi-Nabi terdahulu. Kepada orang-orang Bani Israel beliau menjelaskan  kedatangannya bukanlah  untuk merombak ajaran  Taurat yang  diturunkan  kepada  Nabi Musa melainkan  hanya  "menggenapi" atau  mengadakan  semacam  "reenforce" terhadap  Perjanjian  Lama. Orang-orang  Yahudi sepeninggal Musa, telah melupakan ajaran  Nabi Musa   itu dan Yesus datang kembali untuk mengingatkan agar mereka kembali   berpegang   kepada  Kitab  Taurat.Lebih   lanjut   Yesus menjelaskan misinya kepada Bani Israel itu:

"Janganlah  kamu  menyangka,  bahwa Aku  datang  untuk  meniadakan hukum  Taurat  atau  Kitab  para  Nabi.  Aku  datang  bukan  untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena  Aku  berkata kepadamu:  Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan  bumi  ini, satu  iota  atau  satu titikpun tidak akan ditiadakan  dari  hukum Taurat,   sebelum  semuanya  terjadi.  Karena   itu   siapa   yang meniadakan  salah  satu  perintah  hukum  Taurat,  sekalipun  yang paling  kecil, dan mengajarkannya  demikian kepada orang  lain  ia akan  menduduki  tempat yang paling rendah dalam  kerajaan  sorga, tetapi  siapa yang melakukan dan melakukan dan mengajarkan  segala perintah-perintah  hukum Taurat, ia akan  mendudduki  tempat  yang tinggi didalam Kerajaan Sorga. "
(Matius 5:17-19).

Jadi   jelaslah   bahwa   Yesus  hanya  sebagai   "reformer"   dan "pembaharu"  dari  ajaran  Taurat dan Kitab-Kitab  Nabi  terdahulu yang  sudah  lama  ditinggalkan dan dilupakan orang-orang  Yahudi. Beliau  sesuai  dengan  pengakuannya  sama sekali   tidak  membawa ajaran  baru  yang  merombak ajaran Taurat itu.  Musa  menjelaskan kepada  orang-orang  Yahudi tentang keesaan Tuhan  dan  bahwasanya Allah adalah satu-satunya Tuhan bagi orang-orang Israel itu.

"Akulah  TUHAN,  Allahmu, yang membawa engkau  keluar  dari  tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu Allah allah  lain dihadapanKu.  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai  apapun yang  ada  dilangit   di atas atau yang ada dibumi   dibawah  atau yanga ada didalam air dibawah bumi."......
(Ulangan 5:6-8).
Masih dalam Kitab Taurat, dengan tegas dan jelas dapat kita baca:

"Dengarlah,  hai  orang Israel: TUHAN itu Allah  kita,  TUHAN  itu esa!..
(Ulangan 6:4).
Jika  seandainya  Trinitas dimana Yesus  adalah  salah  satu  dari oknum  Tuhan  bahkan  orang-orang  Kristen  meyakini  bahwa  Yesus adalah  Allah  sendiri  sebagaimana yang ditekankan  dalam  ajaran Kristen  sekarang  ini, benar merupakan ajaran  Yesus  tentu  saja doktrin  tersebut akan kita jumpai dalam Perjanjian Lama.  Padahal apa  kita  lihat dalam ajaran Musa adalah  berlawanan  dengan  apa yang  dianut  oleh orang-orang Kristen sekarang ini.  Musa  sangat menekankan   pentingnya  kepercayaan akan  "kesaan  Tuhan"  kepada orang-orang  Yahudi dan dalam Perjanjian Baru  pun   hal  tersebut juga dilakukan oleh Yesus terhadap pengikutnya.

"Jawab  Yesus:"Hukum  yang terutama ialah:  Dengarlah,  hai  orang Israel,  Tuhan  Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihi  Tuhan,  Allahmu dengan  segenap  hatimu  dan  dengan  segenap  jiwamu  dan  dengan segenap  akal  budimu  dan  dengan segenap  kekuatanmu"....
(Markus 12:29-30).
Lebih lanjut lagi Yesus mengatakan:

"Ada  seseorang  datang kepada Yesus dan berkata:'Guru,  perbuatan baik  apakah  yang  harus kuperbuat untuk  memperoleh  hidup  yang kekal?'.  Jawab  Yesus: 'Apakah sebabnya engkau bertanya  kepadaKu tentang  apa  yang  baik?  Hanya satu yang  baik.  Tetapi  jikalau engkau   igin  masuk  kedalam  hidup,  turutilah  segala  perintah Allah".....
(Matius 19:16-17).

Jadi  jelaslah Yesus sama sekali menekankan pentingnya kepercayaan akan  "keesaan Tuhan" secara mutlak dan menganjurkan kepada murid- muridnya   untuk   bertindak  serupa....   ...Yesus   juga   tidak mengajarkan kepada pengikutnya bahwa dia adalah salah  satu  oknum trinitas  .....bahkan  Yesus dalam setiap ucapan  dan  tindakannya sama  sekali  tidak  menunjukkan bahwa dia adalah  Allah....  atau oknum  Allah  dari  ajaran Trinitas yang dianut  oleh  orang-orang Kristen dewasa ini....
 



"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link: