Rabu, 29 Juli 2015

Wanita melihat majalah yang ada gambarnya

Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apa hukum wanita-wanita yang melihat
majalah di dalamnya ada gambar-gambar dan makalah-makalah yang haram
secara syar'i ?

Jawaban.
Diharamkan bagi setiap mukallaf, baik lelaki maupun perempuan untuk membaca
buku-buku bid'ah yang sesat, majalah yang menyebarkan khurafat dan
menyebarkan cerita-cerita bohong serta mengajak kepada penyelewengan dari
akhlak yang baik, kecuali apabila tujuan membacanya untuk membalas tulisan yang
menyesatkan yang ada di dalamnya, mengingatkan penerbitnya dan mengingatkan
manusia dari bahayanya.

(Dari Lajnah Da'imah Lil Ifta, Saudi Arabia, Majalatul Buhuts Al-Islmaiyah, 19/138)

Sponsor link:


Hukum memberi ucapan tahun baru Hijriyah

Tanya :
"Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan selamat’ saat memasuki tahun
baru hijriyah, dan bagaimana tanggapan (kita) atas mereka yang menyambut
(tahun baru Hijriyah) tersebut?

Jawaban :
Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepada anda, kemudian bereaksi
terhadap dia, tetapi seseorang tersebut tidak memulainya;maka ini adalah sikap
yang benar dalam kasus ini. Jika seorang laki-laki, sebagai contoh, berkata : "Kami
ucapkan selamat tahun baru (hijriyah)," maka katakan, "Semoga Allah memberikan
kebaikan kepada anda dan menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan barakah."
Namun, jangan engkau memulai sendiri (ucapan ini), sebab saya tidak mengetahui
hal ini datang dari pendahulu (Salafus Sholih) kita, dimana mereka dulu memberi
selamat satu sama lain untuk tahun baru. Bahkan, (saya) mengetahui bahwa Salaf
tidak mengambil Muharram sebagai bulan pertama tahun hijriyah, kecuali setelah
kepemimpinan Umar bin Khattab, semoga Allah merahmatinya. (Syaikh Muhammad
Sholih Al Utsaimin)

Sponsor link:


Apa hukumnya bersujud kepada kuburan

Tanya : Apa hukumnya bersujud kepada kuburan dan menyembelih (hewan)
diatasnya ?

Jawab : Bersujud diatas kuburan dan menyembelih hewan adalah perbuatan
penyembah berhala pada zaman jahiliah dan merupakan syirik besar. Karena
keduanya merupakan ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah
semata, barangsiapa yang mengarah-kannya kepada selain Allah maka dia adalah
musyrik. Allah ta’ala berfirman:

لِسْ مُ لْا لُ وَّ أَ ا نَ أَ وَ تُرْ مِ أُ كَ لِ ذَ بِ وَ هُ لَ كَ يْ رِشَ اَل . نَ يْ مِ لَا عَ لْا بِّ رَ هِ لَّل ي تِا مَ مَ وَ يَا يَحْ مَ وَ ي كِسُ نُ وَ ي تِ اَلصَ نَّ إِ لْ قُ “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Pemelihara semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah
aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah) “ (Al An’am 162-163)

Dan Allah juga berfirman:
رْ حَ نْا وَ كَ بِّ رَ لِ لِّصَفَ . رَ ثَوْ كَ لْا كَ نَ يْ طَعْ أَ ا نَّ إِ
“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak . Maka
dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah “ (Al Kautsar 1-2)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa bersujud kepada
kuburan dan menyembelih hewan adalah perbuatan ibadah yang jika diarahkan
kepada selain Allah merupakan syirik besar. Tidak diragukan bahwa perbuatan
seseorang yang bersujud kepada kuburan dan menyembelih diatasnya adalah
karena pengagungannya dan penghormatannya (terhadap kuburan tersebut).

Diriwayatkan oleh Muslim dalam hadits yang panjang, bab Diharamkan-nya
menyembelih hewan selain Allah Ta’ala dan laknat-Nya kepada pelaku tersebut.
هِللا لُوْسُرَ يِن ثَ دَّ حَ : لَا قَ هُ نْ عَ هُللا يَضِرَ بٍ لِا طَ ي بِ أَ نْ بِ ي لِ عَ نْ عَ ej لِ حَ بَ ذَ نْ مَ هُللا نَ عَ لَ ؛ تٍا مَ لِ كَ عِ بَرْ أَ بِ
ضِرْ أَلا رَا نَ مَ رَ يَّ غَ نْ مَ هُللا نَ عَ لَ ، اًث دِحْ مُ ى وَآ نْ مَ هُللا نَ عَ لَ
“ Dari Ali bin Thalib radiallahuanhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam
menyampaikan kepadaku tentang empat hal: Allah melaknat orang yang yang
menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang
tuanya, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku keonaran, Allah melaknat
orang yang merubah tanda-tanda bumi “

Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya dari jalur Tsabit bin Dhohhak
radiallahuanhu, dia berkata : Seseorang ada yang bernazar untuk menyembelih
onta di Buanah (sebuah nama tempat –pent), maka bersabda Rasulullah Shalallahu
'alaihi wassalam : “Apakah disana ada berhala jahiliah yang disembah?”, mereka
berkata: “tidak“, kemudian beliau berkata lagi: “ Apakah disana ada perayaan
mereka (orang jahiliah)?“, mereka berkata: “tidak ya Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wassalam “, maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : “
Tunai-kanlah nazarmu, sesungguhnya tidak boleh ditunaikan nazar dalam rangka
bermaksiat kepada Allah atau atas apa yang tidak dimiliki anak Adam ” .

Hadits diatas menunjukkan dilaknatnya orang yang menyembelih untuk selain Allah
dan diharamkannya menyembelih ditempat yang diagungkan sesuatu selain Allah,
seperti berhala, kuburan, atau tempat yang biasa dijadikan berkumpulnya
orang-orang jahiliyah, meskipun hal tersebut dilakukan karena Allah ta’ala .

(Dinukil dari :
ءاتفإلاو ةيملعلا ثوحبلل ةمئادلا ةنجللا ىواتف
Kumpulan Fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta, Lembaga
tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia. P.O. Box 1419 Riyadh 11431)

Sponsor link:


Hukum Seputar Hewan Qurban

Tanya : Saya mempunyai saudara sepupu yang selalu menyembelih sembelihan
untuk bapaknya/kakeknya setiap tahun dan saya telah menasihatinya lebih dari
sekali, namun ia selalu berkata : aku sudah bertanya dan mereka mengatakan tidak
ada dosanya, maka bagaimanakah hukum yang benar berdasarkan syari'ah ?

Jawab : Apabila ia menyembelih dan maksudnya berkurban di hari raya Idul Adha
dan tiga hari sesudahnya ( 11,12 dan 13 dzulhijjah ) untuk bapaknya atau
kakeknya dll , maka hal itu tidak apa-apa, atau ia menyembelih dan maksudnya
untuk sedekah bagi mereka ( bapaknya/kakeknya dll ) yang akan dibagikan kepada
kaum faqir, maka tidak apa-apa, karena sedekah dengan daging atau makanan
lainnya , semuanya itu bermanfaat bagi yang hidup dan yang sudah meninggal
berdasarkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika beliau ditanya oleh
seseorang tentang sedekah untuk ibunya yang telah meninggal dunia,
"apakah boleh saya bersedekah untuk ibuku?" maka Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjawab : "ya , bersedekahlah untuknya" . (HR.Bukhari) dan dalam
riwayat Muslim: "apakah ia akan mendapatkan pahala ,jika aku bersedekah
untuknya ? maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : " ya".
Singkat kata, para ulama sepakat bahwa sedekah bagi yang seudah meninggal
bermanfaat baginya, begitu juga dengan do'a. Oleh karena itu jika ia bermaksud
dari sembelihan itu sedekah bagi bapaknya atau kakeknya atau ia menyembelih
sembelihan itu sebagai kurban di hari Idul Adha yang pahalanya ditujukan kepada
Bapaknya dll yang sudah meninggal karena mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala,
maka tidak apa-apa dan dia akan mendapatkan pahala begitu juga yang sudah
meniggal sesuai dengan keikhlasannya dan kesucian sumber harta yang digunakan
untuk itu.

Adapun jika ia melaksanakan itu untuk mendekatkan diri kepada yang sudah
meninggal, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembelih untuk
ahli kubur, berhala, jin dll agar mendapatkan pertolongan mereka, atau agar
mereka memberikan manfaat dan menjauhkan mereka dari penyakit dan segala
bahaya, maka itu adalah perbuatan syirik, sebagaiman Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda : "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah,"
(HR.Muslim)

(Dikutip dari Fatwa-fatwa tentang Qurban
Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin; Syaikh Abdul Aziz Abdullah Bin Baz, Majmu'
Fatawa, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Jilid 6 hal,385)

Sponsor link:


Hukum Tentang Menyembih Hewan Qurban

Pertanyaan :
Ada seseorang yang bapaknya meninggal, dan dia ingin
menyembelih hewan qurban untuknya, maka salah seorang gurunya berkata : tidak
boleh menyembelih seekor unta untuk satu orang, lebih baik kamu menyembelih
seekor kambing untuknya, dan orang yang mengatakan kepadamu : sembelihlah
seekor unta adalah salah, karena tidak boleh menyembelih seekor unta kecuali
untuk jama'ah (tujuh orang ) ?

Jawab :
Boleh menyembelih hewan qurban untuk orang yang telah meninggal ( pahalanya
untuknya ) baik berupa seekor kambing atau unta, dan orang yang mengatakan :
bahwa seekor unta tidak boleh kecuali untuk berjama'ah adalah salah, akan tetapi seekor
kambing tidak syah kecuali untuk satu orang dan baginya boleh menyertakan
keluarganya dalam mendapatkan pahalanya, adapun unta
maka boleh untuk satu orang atau tujuh orang
berserikat dalam membelinya, maka sepertujuhnya merupakan qurban tersendiri
bagi tiap orang yang berserikat, dan sapi sama hukumnya seperti unta.

Pertanyaan:
Tolong beritahukan kepada kami tentang hewan qurban, sahkah berqurban
dengan seekor kambing yang berumur enam bulan, karena mereka mengatakan
bahwa tidak sah berqurban dengan kambing kecuali yang umurnya sudah sempurna satu tahun ?

Jawab :
Tidak sah berqurban dengan kambing domba kecuali yang umurnya sudah
sempurna enam bulan dan telah memasuki bulan ke tujuh atau lebih, baik kambing
jantan atau betina, dan inilah yang disebut dengan jadza', berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Daud, dan Nasa'I bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda : sesungguhnya jadza' (kambing domba yang telah berumur enam bulan dan masuk ke bulan ke tujuh) mencukupi apa yang dicukupi oleh kambing yang sudah berumur satu tahun dan memasuki
tahun ke dua. Dan tidak sah berqurban dengan kambing kacang, atau unta atau sapi kecuali
yang sudah berumur, baik betina atau jantan, hewan disebut telah berumur,kambing jika sudah genap satu tahun dan memasuki tahun kedua, sapi jika sudah genap berumur dua tahun dan memasuki tahun ke tiga, dan unta jika sudah genap berumur lima tahun dan memasuki tahun ke enam, berdasarkan
hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : Jangan kamu menyembelih kecuali yang
sudah berumur, kecuali jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka sembelihlah
jadz dari kambing domba. (HR. Muslim)

Sponsor link:


Hukum Merokok

Sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk-Nya dan
agama yang hak, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan
membersihkan serta mensucikan hati mereka dari kotoran kekufuran dan kefasikan
dan membebaskan mereka dari belenggu penghambaan kepada selain Allah ta’ala.
Dia (Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) membersihkan manusia dari kesyirikan
dan kehinaan kepada selain Allah dan memerintahkannya untuk beribadah hanya
kepada Allah semata dengan merendahkan diri dan mencintai-Nya dan meminta
serta memohon kepada-Nya dengan penuh harap dan takut.

Dia juga mensucikan manusia dari setiap kebusukan maksiat dan perbuatan dosa,
maka dia melarang manusia atas setiap perbuatan keji dan buruk yang dapat
merusak hati seorang hamba dan mematikan cahayanya dan agar menghiasinya
dengan akhlak mulia dan budi perkerti luhur serta pergaulan yang baik untuk
membentuk pribadi muslim yang sempurna. Maka dari itu dia menghalalkan setiap
sesuatu yang baik dan mengharamkan setiap yang keji, baik makanan, minuman,
pakaian, pernikahan dan lainnya.

Termasuk yang diharamkan karena dapat menghilangkan kesucian adalah
merokok, karena berbahaya bagi fisik dan mengdatangkan bau yang tidak sedap,
sedangkan Islam adalah (agama) yang baik, tidak memerintahkan kecuali yang
baik. Seyogyanya bagi seorang muslim untuk menjadi orang yang baik, karena
sesuatu yang baik hanya layak untuk orang yang baik, dan Allah ta’ala adalah Maha
Baik tidak menerima kecuali yang baik.

Berikut akan kami kemukakan beberapa fatwa dari para ulama terkemuka tentang
hukum rokok : “Merokok hukumnya haram, begitu juga memperdagangkannya.
Karena didalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan, telah diriwayatkan
dalam sebuah hadits :

ةجام نباو أطوملا يف كلامو دنسملا يف دمحأ مامإلا هجرخأ رَا رَضِ اَل وَ رَ رَضَ اَل
“ Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau
membahayakan” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Atturmuzi)
Demikian juga (rokok diharamkan) karena termasuk sesuatu yang buruk
(khabaits), sedangkan Allah ta’ala ketika menerangkan sifat nabi-Nya e berfirman:
“dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk“ (al A’raf
: 175)

Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia.
Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzak Afifi.
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan –
Abdullah bin Quud.

“Merokok diharamkan, begitu juga halnya dengan Syisyah, dalilnya adalah firman
Allah ta’ala: “Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha
penyayang terhadap diri kalian “ (An-Nisa : 29)

“ Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran” (Al-Baqarah : 195)
Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa mengkonsumsi barang ini dapat
membahayakan, jika membahayakan maka hukumnya haram. Dalil lainnya adalah
firman Allah ta’ala:

5 : ءاسنلا ) ا مًا يَ قِ مْ كُ لَ هُللا لَ عَ جَ ى تِ لَّا مْ كُ لَا وَ مْ أَ ءَا هَ فَ سُّلا او تُؤْ تُ اَل وَ)
“ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupan..” (An Nisa:5)

Kita dilarang menyerahkan harta kita kepada mereka yang tidak sempurna akalnya
karena pemborosan yang mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa
mengeluarkan harta untuk membeli rokok atau syisyah merupakan pemborosan
dan merusak bagi dirinya, maka berdasarkan ayat ini hal tersebut dilarang.
Sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam juga menunjukkan pelarangan
terhadap pengeluaran harta yang sia-sia, dan mengeluarkan harta untuk hal ini
(rokok dan syisyah) termasuk menyia-nyiakan harta. Rasulullah e bersabda:

{ رَا رَضِ اَل وَ رَ رَضَ اَل }
Syekh Muhammad bin Sholeh bin ‘Utsaimin
Anggota Lembaga Majlis Ulama Kerajaan Saudi Arabia
“Telah dikeluarkan sebuah fatwa dengan nomor: 1407, tanggal 9/11/1396H, dari
Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa di Riyadh, sebagai berikut: “Tidak
dihalalkan memperdagangkan rokok dan segala sesuatu yang diharamkam karena
dia termasuk sesuatu yang buruk dan mendatangkan bahaya pada tubuh, rohani
dan harta.

Jika seseorang hendak mengeluarkan hartanya untuk pergi haji atau
menginfakkannya pada jalan kebaikan, maka dia harus berusaha membersihkan
hartanya untuk dia keluarkan untuk beribadah haji atau diinfakkan kepada jalan
kebaikan, berdasarkan umumnya firman Allah ta’ala:
مِ ثَ يْ بِ خَ لْا او مُ مَّ يَ تَ اَل وَ ضِرْ أَل اْ نَ مِ مْ كُ لَ ا نَجْ رَخْ أَ ا مَّ مِ وَ مِ تُبْسَ كَ ا مَ تِا بَ يِّ طَ نْ مِ او قُ فِنْ أَ او نُ مَآ نَ يْ ذِ لَّا ا هَ يُّ أَ ا يَ
267 :ةرقبلأ) هِ يْ فِ

“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan untuk kamu.
Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya,
padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan
mata darinya “ (Al Baqarah: 267)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: “ Sesungguhnya Allah Maha Baik,
tidak akan menerima kecuali yang baik “ (al Hadits)

Sponsor link:


Selasa, 28 Juli 2015

Hukum mengejek sunnah Rasulullah ttg jenggot dll

Bagian 1:

Tanya: Kami melihat masih banyak orang ketika mereka melihat orang lain yang
bersungguh-sungguh dalam beragama atau beribadah malah memperolok-oloknya.
Sebagian yang lain ada yang berbicara tentang agama dengan nada mengejek dan
memperolok-olok. Bagaimanakah orang yang seperti ini?

Jawab: "Memperolok-olok agama Islam atau bagiannya adalah kufur akbar,
berdasarkan firman Allah :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu),
tentu mereka akan menjawab:"Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan
bermain-main saja". Katakanlah:"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan
Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?".

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami
mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan
mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang
selalu berbuat dosa. (QS. At Taubah 9 : 65-66).

Barangsiapa mengolok-olok orang yang bersungguh-sungguh dalam beragama
atau menjaga shalatnya disebabkan kesungguhan dan konsistennya di dalam
beragama, maka tergolong ke dalam mengolok-olok agama. Tidak diperbolehkan
duduk-duduk dan bersahabat dengan orang seperti ini. Demikian juga dengan orang
yang membicarakan masalah-masalah agama dengan nada menghina dan
mengejek, maka dapat dikategorikan kafir, tidak boleh berteman dan duduk
bersama mereka. Bahkan kita harus mengingkarinya, mengingatkan orang lain agar
jangan mendekatinya, juga menganjurkan kepadanya agar bertaubat kepada Allah
karena sesungguhnya Dia Maha menerima taubat. Jika ia tidak mau bertaubat,
maka dia dapat diajukan ke pengadilan setelah benar-benar terbukti ia melakukan
penghinaan dan pelecehan terhadap agama Islam dan dengan membawa saksi
yang adil supaya mendapatkan keputusan hukuman dari mahkamah syar’iyyah
(pengadilan Islam).

Intinya, bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat besar dan berbahaya,
maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui ajaran agamanya, supaya dapat
berhati-hati dari hal ini dan agar dapat mengingatkan orang tentang bahaya
menghina, mengolok-olok dan melecehkan agama. Sebab hal ini merusak aqidah
dan merupakan penghinaan terhadap al-haq dan para pelakunya. (Syaikh Ibnu Baz)
Tanya: Apa hukumnya menghina dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh
dengan agamanya?

Jawab: Orang yang mengolok-olok mereka yang beriltizam dalam agama Allah,
yang berpegang teguh perintah-perintah Allah maka dapat dikate-gorikan munafik,
karena Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman,

(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'-min yang
memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak
memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka
orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan mem-balas penghinaan
mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. 9:79)

Sponsor link:


Hukum menerangi dan beribadah di makam para wali Allah

Tanya:
Apakah hukum menerangi maqam-maqam para wali dan bernadzar di sana ?

Jawab:
Menerangi maqam-maqam para wali dan Nabi, yakni yang dimaksud si penanya ini
adalah kuburan-kuburan mereka, maka melakukan ini adalah diharamkan.
Terdapat hadits yang shahih bersumber dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa
beliau melaknat pelakunya, karenanya menyinari kuburan-kuburan semacam ini
tidak boleh dan pelakunya dilaknat melalui lisan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri.

Jadi, berdasarkan hal ini pula, bila seseorang bernadzar untuk menerangi kuburan
tersebut, maka nadzarnya itu haram hukumnya sebab Nabi Shalallahu ‘alaihi wa
sallam telah bersabda, "Barang siapa yang bernadzar untuk mena’ati Allah maka
ta’atilah Dia dan barang siapa yang bernadzar untuk berbuat maksiat terhadap-Nya,
maka janganlah dia melakukan hal itu (berbuat maksiat terhadap-Nya)." ( Shahih
Al- Bukhari, kitab Al-Imam wa an- Nudzur, no. 6696)

Dia tidak boleh menepati nadzar ini akan tetapi apakah dia wajib membayar kafarat
(tebusan)nya dengan kafarat pelanggaran sumpah karena tidak menepati
nadzarnya tersebut ataukah tidak wajib ?

Di sini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama.pendapat yang lebih
berhati-hati adalah harus membayarnya dengan kaffarat pelanggaran sumpah
karena dia tidak menepati nadzarnya ini, wallahu a’lam.

(Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, kumpulan fatwa tentang aqidah dari Syaikh
Ibnu Utsaimin hal. 28. Dikumpulkan dalam Al Fatawa Asy Syari’iyyah fi Al Masa’il Al
‘Ashriyyah min Fatawa Ulama’ Al Balad Al Haram oleh Khalid Al Juraisiy)

Sponsor link:


Dalil-dalil dan hukum mencukur jenggot/lihyah bagi laki-laki

Sirah atau sejarah semua rasul-rasul dan nabi-nabi sampai ke sirah Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam serta tarikh semua para sahabat terutama
Khulafa ar Rasyidin telah didedahkan kepada kita bahwa mereka semua didapati
memelihara jenggot karena mengimani dan mentaati setiap perintah agama dan
berpegang kepada fitrah yang diturunkan kepada rasul yang diutus untuk mendidik
dan menunjukkan mereka jalan kebenaran.

Mereka yakin hanya dengan mentaati
Nabi atau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam semua aspek akan berjaya di
dunia dan di akhirat. Antara kisah nabi yang terdapat di dalam al-Quran yang
disebut dengan jenggot ialah kisah Nabi Harun sebagaimana firman Allah: "Harun
menjawab : Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan pula
kepalaku". (QS Thaha, 20:94).

Para Isteri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wassalam juga suka melihat Nabi berjenggot sehingga ada yang meletakkan
minyak wangi di jenggot dan jambang Nabi. Sebagaimana hadits sahih di bawah ini:
"Dari Aisyah Ummul Mukminin berkata : Aku mewangikan Nabi Shalallahu ‘alaihi
wassalam dengan sebaik-baik wangi-wangian pada rambut dan jenggotnya".
Muttafaq ‘alaihi. "Berkata Anas bin Malik : Jenggot Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam
didapati lebat dari sini ke sini, maka diletakkan kedua tangannya di pipinya". HR Ibn
Asyakir (dalam Tarikhnya).

Di dalam kitab ( يرابلا حتف ) Jld. 10: 335, terdapat nash yang ditulis: "Memelihara
jenggot adalah kesan peninggalan yang diwariskan oleh (Nabi) Ibrahim alaihissalam
wa ala nabiyina as salatu wassalam sebagaimana dia mewariskan (wajibnya)
jenggot maka begitu juga (wajibnya) berkhatan".

"Dari Jabir berkata : Sesungguhnya Rasulullah lebat jenggotnya". HR Muslim. "Dari
Muamar berkata : Kami bertanya kepada Khabbab, adakah Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wassalam membaca (al-Quran) di waktu Zuhur dan Asar? Beliau berkata :
Ya! Kami bertanya, dari mana engkau tahu? Beliau menjawab : Dengan
bergerak-geraknya jenggot Rasulullah". HR al Bukhari.

"Dari Jabir berkata : Kebiasaannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam apabila
bersikat dimulakan pada rambutnya kemudian pada jenggotnya". HR Muslim.
"Dari Umar berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam lebat
jenggotnya, di riwayat yang lain tebal jenggotnya dan di lain riwayat pula subur
jenggotnya". HR at Tirmidzi.

"Dari Anas bin Malik berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam
apabila berwuduk meletakkan tapak tangannya yang berair ke bawah dagunya dan
diratakan (air) di jenggotnya. Beliau bersabda : Beginilah aku disuruh oleh
Tuhanku". HR Abu Daud.

"Terdapat pada jenggot (Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam) jenggot yang putih". HR
Muslim.

"Tidak kelihatan uban di jenggotnya kecuali sedikit". HR Muslim.
"Rambut yang putih (uban) di kepala dan di jenggot (Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wassalam) tidak melebihi dua puluh helai". HR al-Bukhari.

Semua Para Sahabat Radiyallahu ‘anhu Berjenggot
Melalui keterangan yang diperolehi dari hadits sahih, atsar dan sirah (sejarah para
sahabat) terbukti tidak seorangpun dari kalangan para sahabat yang mencukur
jenggot mereka dan tidak seorangpun yang menghalalkan perbuatan mencukur
jenggot. Ini terbukti karena didapati keseluruhan para sahabat berjenggot.
Sebagaimana keterangan dari hadits-hadits di bawah ini: "Didapati Abu Bakar lebat
jenggotnya, Utsman jarang (tidak lebat) jenggotnya tetapi panjang, dan Ali tebal
jenggotnya". HR Tirmidzi.

Sponsor link:


Hukum mematuhi kedua orang tua dalam mencukur jenggot


Tanya :
Saya seorang pemuda muslim yang ingin memelihara jenggot. Akan tetapi kedua
orang tuaku menentang keras keinginannku itu. Wajibkah saya terus memelihara
jenggot ataukah menuruti perintah kedua orang tuaku?

Jawab :
Alhamdulillah, mencukur jenggot hukumnya haram, tidak boleh mencukurnya
karena menuruti perintah orang tua atau pemimpin. Sebab ketaatan hanya pada
perkara yang ma'ruf. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : "Tidak boleh
taat kepada makhluk dalam hal mendurhakai Allah."
(Fatawa Lajnah Daimah V/146, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta,
Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)

Sponsor link:


Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal

Dalil-dalil tentang Puasa Syawal

Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan
dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup'."
[Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]

Hukum Puasa Syawal
Hukumnya adalah sunnah: "Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa
berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi'i, Ahmad dan banyak ulama
terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan
alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa ini,
seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari Ramadhan,
atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia tidak
mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena semua ini
adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak Sunnah yang
shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang tidak
mengetahui."

[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/389]
Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:
1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.
"Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan.
Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah 'Id, dan mereka boleh
menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang
lebih mudah bagi seseorang. ... dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan
sunnah."

[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/391]
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
"Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal.
Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara
berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau
menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia
masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda
pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud."
[Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]

Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: 'Itulah mereka
telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho
kepadaku. [QS Thoha: 84]

2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan
"Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa
terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena
dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali
dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu."
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/392]

Sponsor link:


ZAKAT KEPADA SAUDARA DEKAT

ZAKAT KEPADA SAUDARA DEKAT

Pertanyaan:
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta ditanya : Jika ada wanita-wanita yang telah bersuami yang mana
mereka itu adalah kerabat seorang pria, misalnya sebagai keponakannya, sementara
suami-suami mereka adalah orang-orang yang tidak kaya sehingga mereka kurang tercukupi
kebutuhannya, apakah boleh bagi pria itu untuk mengeluarkan zakat kepada mereka ?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang menerima zakat adalah fakir miskin.
Tentang boleh atau tidaknya memberikan zakat kepada mereka sebagaimana yang
ditanyakan yang dianggap sebagai termasuk fakir miskin, harus dikaji terlebih
dahulu tentang kefakiran mereka, jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah dan
pakaian, sementara para suami mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, maka tidak ada alasan untuk mencegah pemberian zakat kepada mereka,
namun jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah perlengkapan, seperti emas atau
lainnya, maka tidak boleh memberikan zakat kepada mereka. [Majalah Al-Buhut
Al-Islamiyah, 3/174]

Sponsor link: