Sabtu, 15 Agustus 2015

KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 1:

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pemimpin utama Jemaah Ahmadiyah yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari negeri India dan Jemaah Salamullah yang dipimpin oleh Lia Aminuddin dari Indonesia, masing-masing telah mengaku mendapatkan wahyu dari Allah Azza Wajalla dan telah pula mengaku diangkat menjadi Imam Mahdi sebagaimana yang konon diriwayatkan oleh beberapa sabda Nabi Muhammad Saw dalam beberapa Hadist yang otoritas ke-Shahihannya serta penafsirannya sendiri sebenarnya masih mengandung perdebatan antar para umat Islam.
Di dalam salah satu riwayat yang diatasnamakan kepada Ibnu Abbas, Rasulullah saw. dikabarkan pernah bersabda:
 
"Tidak akan hancur umat [Islam] yang aku berada di muka, Isa di akhir dan Mahdi di tengahnya"
(
Sunan Nasai; Faidhul Qadir, jld.5,h.301; Nuzul Isa Ibni Maryam Akhir Az Zaman, Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi, terj. Bhs.Indonesia: Turunnya Isa Bin Maryam Pada Akhir Zaman, A.K.Hamdi, CV Haji Masagung,Jakarta,1989, h.89)
Dalam satu Hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dikatakan pula Rasulullah Saw pernah bersabda :
"Tidak ada Mahdi selain Isa"
(
Riwayat Ibnu Majah).
Mengenai bakal turunnya Imam Mahdi, kepercayaan di kalangan pencinta ahli Bait yang lebih dikenal sebagai kaum Syî‘ah lebih kuat dan merata daripada di kalangan umat Islam dari berbagai aliran selain mereka.
Sebutan seseorang sebagai al-mahdî (orang yang mendapat hidayah Ilahi) agaknya mula-mula muncul sebagai sebutan kehormatan, khususnya untuk para anggota Ahl al-Bayt (Keluarga Nabi) dari garis keturunan ‘Alî ibn Abu Thâlib dan Fâthimah. Ada indikasi bahwa kedua putera ‘Alî dan Fâthimah, yaitu Hasan dan Husein (al-Hasan dan al-Husayn) sejak dari semula sudah digelari sebagai al-Mahdî.
Ini cukup logis, baik dari sudut pandang kaum Sunnî maupun, lebih-lebih lagi, kaum Syî‘î, mengingat kedua cucunda Nabi itu dihormati sebagai tokoh-tokoh yang telah menempuh hidup di bawah bimbingan Allah.
Di kalangan kaum Syî‘î, Mahdisme merupakan salah satu pandangan keagamaan yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada di kalangan kaum Sunnî. Bahkan dapat dikatakan bahwa Mahdisme hampir-hampir identik dengan Syî‘isme, baik kalangan Syî‘ah Istnâ ‘Asy`arîyah (juga disebut Syî‘ah Ja‘farîyah atau Mûsawîyah) maupun kalangan Syî‘ah Sab‘îyah (lebih umum dikenal dengan sebutan Syî‘ah Ismâ‘îlîyah).
Namun ada yang melacak bahwa paham tentang Imam Mahdi itu asal mulanya timbul di kalangan kaum Kaysânîyah, yaitu para pengikut Muhammad ibn al-Hanafîyah, seorang keturunan ‘Alî dari isterinya yang berasal dari wanita suku Banî Hanîfah. (Maka cukup menarik untuk diperhatikan bahwa tokoh putera ‘Alî ibn Abu Thâlib yang bernama Muhammad ini tidak disebut "ibn ‘Alî", melainkan "ibn al-Hanafîyah" yang merujuk kepada ibunya; dengan begitu ia ditegaskan sebagai bukan keturunan Nabi saw., karena keturunan beliau hanya ada dari kerturunan puteri beliau, Fâthimah).
Setelah Muhammad ibn al-Hanafîyah meninggal, para pengikutnya percaya bahwa ia menghilang dalam persembunyian di Gunung Rawdlah di Arabia barat-laut, kawasan antara Yanbû‘ dan Madînah. Mereka percaya bahwa tokoh itu kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di bumi, sebagai Imam Mahdi. Saat sekarang ini, dalam kepercayaan para pengikutnya, Muhammad ibn al-Hanafîyah adalah seorang Imam yang masih dalam persembunyian (al-Imâm al-Ghâ’ib), sekaligus Imam yang dinantikan (al-Imâm al-Muntazhar). (Lihat: Mesianisme dalam kehidupan beragama)
Sementara itu, Mirza Ghulam Ahmad, kelahiran Qadian-India 13 Februari 1835, mengaku menerima suara dari langit pada bulan Maret 1882 yang menyatakan diangkatnya Mirza Ghulam sebagai "Ma'mur Minallah" atau "Utusan Allah" dan mengklaimkan diri pula sebagai seorang Mujaddid (pembaharu agama), yang dilanjutkan pada awal tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan bahwa dirinya telah diangkat oleh Allah Swt sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau'ud atau Isa yang dijanjikan.
(lihat:
http://thewww.com/ahmadina/sejarah.htm )
Selain itu juga ia sebagai Juru Selamat dari umat Budha (Reinkarnasi Budha), umat Hindu (Kalky Authar), umat Kong Hu Chu, umat Zoroaster dan tentu saja umat Kristen yaitu datangnya Jesus untuk mendekatkan kerajaan langit dan bumi.
(Amanat Hz.Khalifatul Masih IV Pd Tasyakur Seabad Jemaat Ahmadiyah,23 Maret 1889-1989, Souvenir Peringatan Seabad Gerhana-bulan dan Gerhana-matahari Ramadhan 1894-1994,Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994,h.7)
Referensi diambil dari: http://thewww.com/ahmadina/akidah.htm
Dengan menetapkan Masih Mau'ud dan Mahdi itu satu orangnya, kedatangan Almasih tsb. dianggap sebagai kedatangan Rasulullah saw. untuk kedua kalinya. Dan orang-orang yang menerima kedatangan Masih Mau'ud tsb. dinyatakan sebagai para sahabat Rasulullah saw. juga, namun yang belum pernah bergabung/berjumpa dengan para sahabah yang hidup dimasa Rasulullah saw. (Al-Jum'ah:3-4). Dengan itu di kalangan umat Islam pecinta Rasulullah saw. timbul kedambaan yang meluap-luap terhadap Almasih yang dijanjikan tsb.
Pada akhir tahun 1890, yaitu beberapa waktu sebelum Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan dirinya sebagai Imam Mahdi dan Almasih, ia mengatakan telah memperoleh ilham dari Allah bahwasanya Nabi Isa Putra Maryam telah wafat:
"Masih ibnu Maryam rasul Allah faot hocuka he aor uske rangg me ho kar wa'dah ke muwafiq tu aya he -- Masih Ibnu Maryam rasul Allah telah wafat, dan dalam warnanya engkau telah datang sesuai dengan [yang] dijanjikan" (Izalah Auham h.561-562; Tadzkirah, edisi ke-3, Al-Syirkatul Islamiah, Rabwah, 1969,h.183)
Jadi menurut Mirza Ghulam seseorang yang telah wafat tidak akan hidup kembali dan datang ke dunia ini. Oleh karena itu, orang yang dijanjikan kedatangannya tsb. tentu pribadi lain yang memiliki kesamaan dengan Almasih yang tidak lain adalah dirinya sendiri.

Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburan Nabi Isa as. terdapat di Srinagar, Kashmir. Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan ekspedisi untuk menelusuri bukti-bukti perjalanan hijrahnya Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir sampai beliau as. wafat disana.
Dan pada tahun 1899 Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Almasih Hindustan Me (Almasih Di India), yang diklaim memuat bukti-bukti sejarah serta kesaksian-kesaksian sosial budaya kawasan yang diperkirakan pernah dilalui oleh Nabi Isa dalam perjalanan beliau mencari domba-domba Bani Israili yang hilang, di kawasan Iran, Afghanistan, hingga ke Kashmir, India.
Berbeda dengan pengklaiman Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) yang mengaku sebagai Imam Mahdi sekaligus juga Isa Almasih, Lia Aminuddin dari Indonesia mengaku telah disapa oleh seorang Malaikat bernama "Habib Al-Huda" pada tanggal 27 Oktober 1995 yang akhirnya pada tanggal 28 Juli 1997 makhluk tersebut mengaku bahwa dia sesungguhnya adalah Malaikat Jibril utusan Allah yang membawa misi mengabarkan kebangkitan Imam Mahdi dan Isa Almasih pada akhir jaman. (lihat: Perkenankan Aku Menjawab Sebuah Takdir)
Adapun Imam Mahdi yang dimaksud adalah tidak lain Lia Aminuddin sendiri yang lahir dikota Ujungpandang pada tanggal 21 Agustus 1947, sementara sang Nabi Isa Almasih adalah Ahmad Mukti, kelahiran 1 Juni 1972, putra ketiga dari empat bersaudara buah perkawinannya dengan Ir. Aminuddin Day, MSc, seorang dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Meniliki sosok Ahmad Mukti, tidak ada yang istimewa dalam kehidupan masa lalunya. Pendidikan sekolah SD-SMA diselesaikannya di Jakarta. Bahkan ia pernah di DO (drop out) dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) karena memiliki nilai yang kurang memadai. Dan terpaksa melanjutkan studi S-1 di Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta.
Ahmad Mukti sebelumnya diketahui tidak terlampau akrab dengan Jemaah Salamullah yang dipimpin oleh ibunya. Dia juga tidak pernah kelihatan menjadi Imam Sholat fardu berjamaah ataupun Sholat amanatuhu - Sholat sunah versi mereka.
Kebangkitan Nabi Isa menurut Lia Aminuddin diketengahkan melalui sebuah kelahiran dan Ahmad Mukti itu menerima ruh Nabi Isa sejak awal ketika dia masih berupa janin di dalam kandungan. Sejak kelahiran sampai dia dewasa, keadaannya disimpan, tidak diberitahukan demi perlindungan kepadanya. Persembunyian ini ditujukan untuk menghindarkan dirinya dari pembinasaan oleh dajjal. Sebagai Nabi Isa yang kelak akan membunuh dajjal tentulah oleh dajjal hal itu ingin digagalkan. Maka, keadaan Nabi Isa ini diungkapkan setelah dia berumur 26 tahun, pada saat pembaiatannya.
Kedatangan dajjal diberitahukan bersamaan dengan kebangkitan Nabi Isa. Maka kedatangan dajjal itu tak dapat dihindarkan oleh Nabi Isa. Sedangkan dia ingin dikemukakan sebagai manusia biasa oleh Allah demi untuk menghentikan pengkultusannya. Umat Nasrani telah mempersekutukan Nabi Isa dengan Allah. Maka pada kebangkitan Nabi Isa ini dia dikemukakan sebagai orang yang belum menerima perisai-perisainya Nabi Isa.
Dia hanya disebutkan sebagai Nabi Isa. Maka untuk membela dia dari serangan dajjal dan orang-orang yang tak menginginkannya, maka Allah menunjuk ibunya sebagai Imam Mahdi sebagai orang yang mengemukakan kebangkitannya dan sekaligus sebagai penjaganya. Nabi Isa dan Imam Mahdi merupakan suatu kesatuan yang solid untuk menyampaikan perintah-perintah dan amanah Allah. Keduanya saling menjaga dan tugas mereka saling melengkapi.
Misalkan Imam Mahdi dan Nabi Isa itu terpisah dan tak saling berkaitan, amanah-amanah Allah itu kembali menjadi pertentangan antara umat Kristen dan umat Islam.
Dengan pernyataan ini, secara tidak langsung, Lia Aminuddin telah membatalkan pengklaiman Jemaah Ahmadiyah mengenai ketunggalan Almasih dengan Imam Mahdi dalam sosok Mirza Ghulam Ahmad.
Selanjutnya sebagai pembuktian bahwa Ahmad Mukti adalah Nabi Isa, maka ruh Siti Maryam dikabarkan telah mendampingi Lia Aminuddin melalui sosoknya pada diri beliau setiap saat bila diperlukan (kondisi trance). Dengan cara inilah konon Allah memberikan sarana bagi Lia Aminuddin untuk membuktikan bahwa anaknya , Ahmad Mukti itu, adalah Nabi Isa.
Ketika berkunjung ke Masjid Nabawi-Madinah Al Munawarah, Sabtu 18 Oktober 1997, di depan makam Rasulullah Muhammad Saw tiba-tiba Lia Aminuddin mengalami in trance. Lalu ia mendengar suara di dalam kalbunya, semacam isyarat dari Rasul. 


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

KeEsaan Tuhan Dalam Alkitab

YESUS DATANG BUKAN UNTUK MEROMBAK TAURAT......

Berbeda  dengan  apa yang dianut , diayakini, dan  dipahami   oleh orang-orang  Kristen  sekarang  ini   terhadap  Keesaan  Tuhan   , Alkitab   sendiri  memberikan  kesaksian  bahwa  Yesus    sendiri, sebagaimana juga Rasul-Rasul yang lain diutus oleh Allah  memegang teguh  kepercayaan  akan  "keesaan  Tuhan".  Hal  ini  diungkapkan beliau  sesuai dengan kesaksian penulis-penulis Injil bahwa  Yesus sama  sekali  tidak  membawa suatu ajaran baru  yang  menghapuskan ajaran  Nabi-Nabi terdahulu. Kepada orang-orang Bani Israel beliau menjelaskan  kedatangannya bukanlah  untuk merombak ajaran  Taurat yang  diturunkan  kepada  Nabi Musa melainkan  hanya  "menggenapi" atau  mengadakan  semacam  "reenforce" terhadap  Perjanjian  Lama. Orang-orang  Yahudi sepeninggal Musa, telah melupakan ajaran  Nabi Musa   itu dan Yesus datang kembali untuk mengingatkan agar mereka kembali   berpegang   kepada  Kitab  Taurat.Lebih   lanjut   Yesus menjelaskan misinya kepada Bani Israel itu:

"Janganlah  kamu  menyangka,  bahwa Aku  datang  untuk  meniadakan hukum  Taurat  atau  Kitab  para  Nabi.  Aku  datang  bukan  untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena  Aku  berkata kepadamu:  Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan  bumi  ini, satu  iota  atau  satu titikpun tidak akan ditiadakan  dari  hukum Taurat,   sebelum  semuanya  terjadi.  Karena   itu   siapa   yang meniadakan  salah  satu  perintah  hukum  Taurat,  sekalipun  yang paling  kecil, dan mengajarkannya  demikian kepada orang  lain  ia akan  menduduki  tempat yang paling rendah dalam  kerajaan  sorga, tetapi  siapa yang melakukan dan melakukan dan mengajarkan  segala perintah-perintah  hukum Taurat, ia akan  mendudduki  tempat  yang tinggi didalam Kerajaan Sorga. "
(Matius 5:17-19).

Jadi   jelaslah   bahwa   Yesus  hanya  sebagai   "reformer"   dan "pembaharu"  dari  ajaran  Taurat dan Kitab-Kitab  Nabi  terdahulu yang  sudah  lama  ditinggalkan dan dilupakan orang-orang  Yahudi. Beliau  sesuai  dengan  pengakuannya  sama sekali   tidak  membawa ajaran  baru  yang  merombak ajaran Taurat itu.  Musa  menjelaskan kepada  orang-orang  Yahudi tentang keesaan Tuhan  dan  bahwasanya Allah adalah satu-satunya Tuhan bagi orang-orang Israel itu.

"Akulah  TUHAN,  Allahmu, yang membawa engkau  keluar  dari  tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu Allah allah  lain dihadapanKu.  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai  apapun yang  ada  dilangit   di atas atau yang ada dibumi   dibawah  atau yanga ada didalam air dibawah bumi."......
(Ulangan 5:6-8).
Masih dalam Kitab Taurat, dengan tegas dan jelas dapat kita baca:

"Dengarlah,  hai  orang Israel: TUHAN itu Allah  kita,  TUHAN  itu esa!..
(Ulangan 6:4).
Jika  seandainya  Trinitas dimana Yesus  adalah  salah  satu  dari oknum  Tuhan  bahkan  orang-orang  Kristen  meyakini  bahwa  Yesus adalah  Allah  sendiri  sebagaimana yang ditekankan  dalam  ajaran Kristen  sekarang  ini, benar merupakan ajaran  Yesus  tentu  saja doktrin  tersebut akan kita jumpai dalam Perjanjian Lama.  Padahal apa  kita  lihat dalam ajaran Musa adalah  berlawanan  dengan  apa yang  dianut  oleh orang-orang Kristen sekarang ini.  Musa  sangat menekankan   pentingnya  kepercayaan akan  "kesaan  Tuhan"  kepada orang-orang  Yahudi dan dalam Perjanjian Baru  pun   hal  tersebut juga dilakukan oleh Yesus terhadap pengikutnya.

"Jawab  Yesus:"Hukum  yang terutama ialah:  Dengarlah,  hai  orang Israel,  Tuhan  Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihi  Tuhan,  Allahmu dengan  segenap  hatimu  dan  dengan  segenap  jiwamu  dan  dengan segenap  akal  budimu  dan  dengan segenap  kekuatanmu"....
(Markus 12:29-30).
Lebih lanjut lagi Yesus mengatakan:

"Ada  seseorang  datang kepada Yesus dan berkata:'Guru,  perbuatan baik  apakah  yang  harus kuperbuat untuk  memperoleh  hidup  yang kekal?'.  Jawab  Yesus: 'Apakah sebabnya engkau bertanya  kepadaKu tentang  apa  yang  baik?  Hanya satu yang  baik.  Tetapi  jikalau engkau   igin  masuk  kedalam  hidup,  turutilah  segala  perintah Allah".....
(Matius 19:16-17).

Jadi  jelaslah Yesus sama sekali menekankan pentingnya kepercayaan akan  "keesaan Tuhan" secara mutlak dan menganjurkan kepada murid- muridnya   untuk   bertindak  serupa....   ...Yesus   juga   tidak mengajarkan kepada pengikutnya bahwa dia adalah salah  satu  oknum trinitas  .....bahkan  Yesus dalam setiap ucapan  dan  tindakannya sama  sekali  tidak  menunjukkan bahwa dia adalah  Allah....  atau oknum  Allah  dari  ajaran Trinitas yang dianut  oleh  orang-orang Kristen dewasa ini....
 



"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

Islam Secara Kaffah

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu."(Qs. al-Baqarah 2:208)
Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah atau secara keseluruhan, benar-benar, sungguh-sungguh.
Apa maksudnya ?
Pengalaman telah mengajarkan kepada kita, betapa banyaknya manusia-manusia yang mengaku telah beriman kepada Allah, mengaku meyakini apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan dia juga mengaku beragama Islam akan tetapi pada hakekatnya mereka tidaklah Islam.
Islam hanya dijadikan topeng, cuma sekedar pajangan didalam KTP yang sewaktu marak aksi demonstrasi dipergunakan sebagai tameng didalam menindas orang-orang yang lemah, melakukan aniaya terhadap golongan minoritas serta tidak jarang dijadikan sarana untuk menipu rakyat banyak.
Allah tidak menghendaki Islam yang demikian.
Islam adalah agama kedamaian, agama yang mengajarkan Tauhid secara benar sebagaimana ajaran para Nabi dan Rasul serta agama yang memberikan rahmat kepada seluruh makhluk sebagai satu pegangan bagi manusia didalam menjalankan tugasnya selaku Khalifah dimuka bumi.
Dalam surah al-Baqarah 2:208 diatas, Allah memberikan sinyal kepada umat Islam agar mau melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam Islam secara kaffah ?
Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam kemusryikan.
Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya ?
al-Qur'an memberikan jawaban kepada kita :
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti."(Qs. al-Anfaal 8:20)
Jadi Allah telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.
Taat kepada Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila kita mengkaji al-Qur'an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.
Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.
Bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Pencipta yang tidak memiliki serikat ataupun sekutu didalam zat dan sifat-Nya sebagai satu-satunya tempat kita melakukan pengabdian, penyerahan diri serta ketundukan secara zhohir dan batin.
Seringkali manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong, berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.
Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.
Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.
Manusia, telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang telah dilakukan terhadap Allah.

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Qs. al-Baraah 9:31)
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, namun mereka berkata: "Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !". Katakanlah:"Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit-langit dan dibumi ?" ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."  (Qs. Yunus 10:18)
Penyakit syirik ini dapat mengenai dan menyertai siapa saja, tidak terkecuali didalam orang-orang Islam yang mengaku bertauhid. Untuk itulah Allah memberikan perintah internal kepada umat Muhammad ini agar sebelum mereka melakukan Islamisasi kepada orang lain, dia harus terlebih dahulu mengIslamkan dirinya secara keseluruhan alias Kaffah dengan jalan mentaati apa-apa yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasul Muhammad Saw sang Paraclete yang agung, Kalky Authar yang dijanjikan.
Bagaimana orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah ?
Sejarah mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.
Dimulai dari pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib, pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang dan seterusnya dan selanjutnya.
Inilah satu bentuk kesyirikan terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin kebanyakan.
Mereka lebih takut kepada si Roro Kidul ketimbang kepada Allah, mereka lebih hormat kepada kyai ketimbang kepada Nabi. Mereka lebih menyukai membaca serta mempercayai isi kitab-kitab primbon dan kitab-kitab kuning yang bertuliskan arab gundul ketimbang membaca dan mempercayai kitab Allah, al-Qur'anul Karim.
Adakah orang-orang yang begini ini disebut sebagai Islam yang kaffah ?
Sudah benarkah cara mereka beriman kepada Allah ?
Saya yakin, kita semua membaca al-Fatihah didalam Sholat, dan kita semua membaca :
"Iyyaka na'budu waiyya kanasta'in"
Yang artinya :
"Hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami memohon pertolongan"
Atau juga :
"U diemen wij en U smeeken wij om hulp"
Yang berarti :
"THEE alone do we worship and THEE alone do we implore for help".
Ayat ini berindikasikan penghambaan kita kepada Allah dan tidak memberikan sekutu dalam bentuk apapun sebagaimana juga isi dari surah al-Ikhlash :
"Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun."(Qs. al-Ikhlash 112:1-4)
"Zeg: Hij, Allah is Een; Allah is Hij, van Wien alles afhangt; Hij baart niet, noch is Hij geebard; En niemand is Hem gelijk."
(Qur'an al-Ichlas het 112de: 1-4)
Hanya sayangnya, manusia terlalu banyak yang merasa angkuh, pongah dan sombong yang hanyalah merupakan satu penutupan dari sifat kebodohan mereka semata sehingga menimbulkan kezaliman-kezaliman, baik terhadap diri sendiri dan juga berakibat kepada orang lain bahkan hingga kepada lingkungan.
Untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan maupun kesaktian, tidak jarang seorang Muslim pergi kedukun atau paranormal, memakai jimat, mengadakan satu upacara ditempat-tempat tertentu pada malam-malam tertentu dan di-ikuti pula dengan segala macam puasa-puasa tertentu pula yang tidak memiliki tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.
Apakah mereka-mereka ini masih bisa disebut sebagai seorang Islam yang Kaffah ? Dengan tindakan mereka seperti ini, secara tidak langsung mereka sudah meniadakan kekuasaan Allah, mereka menjadikan semuanya itu selaku Tuhan-tuhan yang berkuasa untuk mengabulkan keinginan mereka.
"Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah."
(Qs. Al-Baqarah 2:165)
Kepada orang-orang seperti ini, apabila diberikan peringatan dan nasehat kepada jalan yang lurus, mereka akan berubah menjadi seorang pembantah yang paling keras.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
(Qs. al-Kahf 18:54)
"Tidakkah engkau pikirkan orang-orang yang membantah tentang kekuasaan-kekuasaan Allah ? Bagaimana mereka bisa dipalingkan ?"(Qs. al-Mu'min 40:69)
Orang-orang sekarang telah banyak yang salah pasang ayat, mereka katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah suatu kesyirikan melainkan satu usaha atau cara yang mesti ditempuh sebab tanpa usaha Tuhan tidak akan membantu.
Memang benar sekali, tanpa ada tindakan aktif dari manusia, maka tidak akan ada pula respon reaktif yang timbul sebagai satu bagian dari hukum alam sebab-akibat. Akan tetapi, mestikah kita mengaburkan akidah dengan dalil usaha ?
Anda ingin kaya maka bekerja keras dan berhematlah semampu anda, anda ingin mendapatkan penjagaan diri maka masukilah perguruan-perguruan beladiri, anda ingin pintar maka belajarlah yang rajin begitu seterusnya yang pada puncak usaha itu haruslah dibarengi dengan doa kepada Allah selaku penyerahan diri kepada sang Pencipta atas segala ketentuan-Nya, baik itu untuk ketentuan yang bagus maupun ketentuan yang tidak bagus.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(Qs. al-Baqarah 2:216)
"Yang demikian itu adalah nasehat yang diberikan terhadap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, karena barang siapa berbakti kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan bagi mereka satu pemecahan; dan Allah akan mengaruniakan kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka; sebab barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadi pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu pelulus urusan-Nya, sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu."
(Qs. at-Thalaq 65:2-3)
Bukankah hampir semua dari kita senantiasa hapal dan membaca ayat dibawah ini dalam doa iftitahnya ?
"Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian makhluk, tiada serikat bagi-Nya, karena begitulah aku diperintahkan."
(Qs. al-An'aam 6:162-163)
Anda membutuhkan perlindungan dari segala macam ilmu-ilmu jahat, membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bermaksud mengadakan rencana yang jahat dan keji, maka berimanlah anda secara sungguh-sungguh kepada Allah dan Rasul-Nya, InsyaAllah, apabila anda benar-benar Kaffah didalam Islam, Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan Rahmat-Nya kepada kita.
"Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat."
(Qs. Ali Imran 3:132)
Rahmat Allah itu tidak terbatas, Rahmat bisa merupakan satu perlindungan, satu pengampunan, Kasih sayang dan juga bisa berupa keridhoan yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Apakah anda tidak senang apabila Tuhan meridhoi anda ?
Seorang anak saja, apabila dia telah mendapatkan restu dan ridho dari kedua orangtuanya, anak tersebut akan memiliki ketenangan dan penuh suka cita didalam melangkah, apakah lagi ini yang didapatkan adalah keridhoan dari Ilahi, Tuhan yang menciptakan seluruh makhluk, yang berkuasa atas segala sesuatu ?
Jika Allah ridho kepada kita, maka percayalah Allah akan membatalkan dan mengalahkan musuh-musuh kita. Maka dari itu berkepribadian Kaffah-lah didalam Islam, berimanlah secara tulus dan penuh kesucian akidah.
Dalam kajian lintas kitab, kita akan mendapati fatwa dari 'Isa al-Masih kepada para sahabatnya mengenai kekuatan Iman :
Mt 17:19-20 Jesus said to them: Because of your unbelief. For, amen I say to you, if you have faith as a grain of mustard seed, you shall say to this mountain, Remove from hence hither, and it shall remove; and nothing shall be impossible to you. But this kind is not cast out but by prayer and fasting. (Bible Douay)
Mt 21:21-22 And Jesus answering, said to them: Amen, I say to you, if you shall have faith, and stagger not, not only this of the fig tree shall you do, but also if you shall say to this mountain, Take up and cast thyself into the sea, it shall be done. And in all things whatsoever you shall ask in prayer, believing, you shall receive. (Bible Douay)
al-Qur'an pun memberikan gambaran :
2:187. And when MY servants ask thee about ME, say `I am near. I answer the prayer of the supplicant when he prays to ME. So they should hearken to ME and believe in ME that they may follow the right way.
Kita lihat, Allah akan mendengar doa kita, Dia akan memberikan Rahmat-Nya kepada kita dengan syarat bahwa terlebih dahulu kita harus mendengarkan dan percaya kepada-Nya, mendengar dalam artian mentaati seluruh perintah yang telah diberikan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya, khususnya kepada baginda Rasul Muhammad Saw.
Tidak perlu anda mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan tapa-semedi, berpuasa sekian hari atau sekian malam lamanya dengan berpantang makan ini dan makan itu atau juga menyimpan, menggantung jimat sebagai penolak bala, pemanis muka, atau sebagai aji wibawa.
Ambillah al-Qur'an, bacalah dan pelajarilah, amalkan isinya ... maka dia akan menjadi satu jimat yang sangat besar sekali yang mampu membawa anda tidak hanya lepas dari derita dunia yang bersifat temporary, namun juga derita akhirat yang bersifat long and abide.
Yakinlah, bahwa sekali anda mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah" (Tiada Tuhan Selain Allah), maka patrikan didalam hati dan jiwa anda, bahwa jangankan ilmu-ilmu jahat, guna-guna, santet, Jin, Iblis apalagi manusia dengan segenap kemampuannya, Tuhan-pun tidak ada.
Kenapa demikian ?
Sebab dunia ini telah dibuat terlalu banyak memiliki Tuhan-tuhan, semua berhala-berhala yang disembah oleh manusia dengan beragam caranya itu tetap dipanggil Tuhan oleh mereka, entah itu Tuhan Trimurti, Tuhan Tritunggal, Tuhan anak, Tuhan Bapa, Tuhan Budha dan seterusnya.
Karena itu Tauhid yang murni adalah Tauhid yang benar-benar meniadakan, menafikan segala macam jenis bentuk ketuhanan yang ada, untuk kemudian disusuli dengan keberimanan, di-ikuti dengan keyakinan, mengisi kekosongan tadi dengan satu keberadaan, bahwa yang ada dan kita akui hanyalah Tuhan yang bernama Allah.
Itulah intisari dari Iman didalam Islam, intisari seluruh ajaran dan fatwa para Nabi terdahulu, dimulai dari Nuh, Ibrahim terus kepada Ismail, Ishak, Ya'kub, Musa hingga kepada 'Isa al-Masih dan berakhir pada Muhammad Saw.
Itulah senjata mereka, itulah jimat yang mereka pergunakan didalam menghadapi segala jenis kebatilan, segala macam kedurjanaan yang tidak hanya datang dari manusia namun juga datang dari syaithan yang terkutuk.
Dalam salah satu Hadits Qudsi-Nya, Allah berfirman :
"Kalimat Laa ilaaha illallaah adalah benteng pertahanan-Ku; dan barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku."
(Riwayat Abu Na'im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abu Thalib r.a.)
Nabi Muhammad Saw juga bersabda :
"Aku sungguh mengetahui akan adanya satu kalimat yang tidak seorangpun hamba bilamana mengucapkannya dengan tulus keluar dari lubuk hatinya, lalu ia meninggal, akan haram baginya api neraka. Ucapan itu adalah : Laa ilaaha illallaah."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.
Segera kita tanggalkan segala bentuk kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau khurafat, kita ikuti puasa yang diajarkan oleh Islam, kita contoh prilaku Nabi dalam keseharian, kita turunkan berbagai rajah dan tulisan-tulisan maupun bungkusan-bungkusan hitam yang kita anggap sebagai penolak bala atau juga pemanis diri yang mungkin kita dapatkan dari para dukun, paranormal atau malah juga kyai.
Nabi Muhammad Saw bersabda :
"Barangsiapa menggantungkan jimat penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya."
(Hadist Riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir)
"Ibnu Mas'ud berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, mantera-mantera, tangkal dan guna-guna adalah syirik."(Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
"Sa'id bin Jubir berkata: orang yang memotong atau memutuskan tangkal (jimat) dari manusia, adalah pahalanya bagaikan memerdekakan seorang budak."(Diriwayatkan oleh Waki')
Percayalah, Allah adalah penolong kita.
"Sesuatu bahaya tidak mengenai melainkan dengan idzin Allah."
(Qs. at-Taghabun 64:11)
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah ni'mat Allah kepadamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan tangannya untuk mengganggu, lalu Allah menahan tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah; hanya kepada Allah sajalah hendaknya Mu'minin berserah diri."(Qs. al-Maaidah 5:11)
Apabila setelah kita melepaskan seluruh kebiasaan buruk tersebut kita mendapatkan musibah, bukan berarti Allah berlepas tangan pada diri kita dan bertambah mendewakan benda-benda, ilmu-ilmu yang pernah kita miliki sebelumnya. Akan tetapi Allah benar-benar ingin membersihkan kita dari segala macam kemunafikan, menyucikan akidah kita, hati dan pikiran kita sehingga benar-benar berserah diri hanya kepada-Nya semata.
"Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: "Kami telah beriman", padahal mereka belum diuji lagi ?"
(Qs. al-Ankabut 29:2)
"Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", tetapi manakala ia diganggu dijalan Allah, maka ia menjadikan percobaan manusia itu seperti adzab dari Allah; dan jika datang pertolongan dari Tuhan-mu, mereka berkata: "Sungguh kami telah berada bersamamu."; Padahal bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada-dada makhluk ?"(Qs. al-Ankabut 29:10)
"Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui orang-orang yang munafik."(Qs. al-Ankabut 29:11)
Nabi juga bersabda:
"Bilamana Allah senang kepada seseorang, senantiasa menimpakan cobaan baginya supaya didengar keluh kesahnya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bagaimana bila sebagai satu konsekwensi dari usaha kembali kepada jalan Allah tersebut kita gugur ? Jangan khawatir, Allah telah berjanji bagi orang-orang yang sudah bertekad untuk kembali pada kebenaran :
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan."
(Qs.at-Taubah 9:20)
"Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik". (Qs. ali Imran 3:195)
"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar."(Qs. an-Nisa' 4:74)
Kembali kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa.
Dengan harta mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan Muslim demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.
Apakah anda akan heran apabila pada waktu anda masih memegang jimat anda merupakan orang yang kebal namun setelah jimat anda tanggalkan anda mendadak bisa tergores oleh satu benturan kecil ditempat tidur ? Bagaimana anda memandang keperkasaan seorang Nabi yang agung yang bahkan dalam perperanganpun bisa terluka dan juga mengalami sakit sebagaimana manusia normal ?
Percayalah, berilmu tidaknya anda, berpusaka atau tidak, bertapa maupun tidaknya anda bukan satu hal yang serius bagi Allah apabila Dia sudah menentukan kehendak-Nya kepada kita.
"Berupa apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada satupun yang bisa menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Gagah, yang Bijaksana."
(Qs. Fathir 35:2)
Apabila memang sudah waktunya bagi kita untuk mendapatkan musibah (baik itu berupa maut dan lain sebagainya) maka dia tetap datang tanpa bisa kita mundurkan atau juga kita majukan.
"Bagi tiap-tiap umat ada batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya maka mereka tidak dapat meminta untuk diundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta agar dimajukan."
(Qs. al-A'raf 7:34)
"Masing-masing Kami tolong mereka ini dan mereka itu, sebab tidaklah pemberian Tuhanmu itu terhalang."(Qs. al-Israa 17:20)
Seluruh Nabi dan Rasul serta para sahabat mereka telah berhasil dengan gemilang mengalahkan para musuhnya dengan hanya berpegang kepada tali Allah yang kuat, mungkin mereka dinilai gagal oleh mata manusia yang hedonis namun mereka merupakan orang-orang pilihan yang diakui atau tidak telah berada dalam urutan teratas daftar nama-nama anak manusia didalam pentas sejarah.
Dalam bacaan lintas kitab, kita akan mendapati beberapa seruan bertauhid kepada Allah semata dengan penuh pesan-pesan yang tinggi dan agung.
Ex 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
De 4:16 supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan;
Isa 41:29 Sesungguhnya, sekaliannya mereka seperti tidak ada, perbuatan-perbuatan mereka hampa, patung-patung tuangan mereka angin dan kesia-siaan.
Dari al-Qur'an :
7: 192 Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.
Akhir kata, semoga Email ini bisa membawa manfaat kepada kita semua didalam memurnikan akidah Islam, menuju pada keridhoan Allah yang Kaffah, atas segala kesalahan yang terjadi saya meminta maaf dan semuanya semata-mata disebabkan keterbatasan saya selaku manusia. Semoga kita semua umat Islam, manakala panggilan telah tiba, Allah akan menyambut kita dengan penuh keramahan sebagaimana firman-Nya :
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan di-ridhoi; Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
 

"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link: