Selasa, 01 September 2015

Tentang sifat-sifat Allah

Madzhab Salaf menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala tanpa ta’thil, tamtsil, tahrif, dan takyif. Mereka mempercayai sifat-sifat Allah sebagaimana yang tersebut dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.     
        
            Tahrif artinya merubah dan mengganti. Pengertiannya: merubah lafadh nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna) dan sifat-sifatnya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya.
    Tahrif itu ada dua: Pertama, menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafadh. Contohnya, orang Jahmiyah dan pengikutnya mengatakan bahwa Istawa adalah istaula. Di sini ada penambahan huruf laam. Juga orang Yahudi mengatakan  hinthathun ketika mereka diperintah mengatakan hitthathun.

Kedua, merubah makna. Contohnya, perkataan ahli bid’ah yang menafsirkan ghadhab (marah) dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam), rahmah (kasih sayang) ditafsirkan dengan iradatul in’am (keinginan untuk memberi ni’mat), dan al-yadu (tangan), dengan an-ni’mah (nikmat).

    Ta’thil artinya meniadakan, yaitu meniadakan sifat-sifat ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya.
   Perbedaan tahrif dan ta’thil yaitu: ta’thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan interpretasi yang batil. 

   Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang bathil dan menafikan suatu makna yang benar maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’atthil, pelaku ta’thil, tetapi bukan muharrif, pelaku tahrif.

    Takyif artinya bertanya dengan kaifa, bagaimana. Maksudnya: menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan tatacara tertentu untuknya. Meniadakan tatacara bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah faham yang dianut oleh kaum Salaf sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik rahimahullah Ta’ala, ketika ditanya tentang tatacara istiwa’, bersemayam. Beliau rahimahullah menjawab:
   استواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
Istiwa’ –bersemayam-- itu telah diketahui (maknanya), tatacaranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah.”

    Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahu tatacara, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, tanpa mempedulikan tatacaranya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.

    Tamtsil artinya menyerupakan, yaitu menjadikan Allah Ta’ala serupa dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya. Tamtsil dibagi menjadi dua yaitu: Pertama, menyerupakan makhluq dengan Pencipta. Misalnya, orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala, dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan Uzair dengan Allah Ta’ala pula. Maha Suci Allah dari itu semua. Kedua, menyerupakan Pencipta dengan makhluq. Contohnya, orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluq, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluq, dan memiliki tangan seperti tangan yang dimiliki oleh makhluq, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

     Kenapa kaum Salaf melarang tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil, karena menurut mereka, sifat Allah SWT itu adalah tauqifiyah, berdasarkan pada wahyu, sedang akal tidak mempunyai peran di dalamnya. Syekh Utsaimin, ulama Salaf masa kini (wafat Syawal 1421H di Saudi Arabia) menegaskan: “Untuk itu, kita tidak menetapkan sesuatupun sifat untuk Allah kecuali bila ada dasarnya dari Kitab dan Sunnah. Imam Ahmad –rahimahullah—mengatakan: “Tidak boleh Allah disifati kecuali menurut apa yang telah Dia sifatkan untuk Diri-Nya atau menurut apa yang telah disifatkan Rasulullah SAW, tidak boleh melanggar Al-Qur’an dan Hadits.”


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar